LURAH CONDONGCATUR HADIRI TRADISI NYADRAN DAN POTONG TUMPENG SAMBUT BULAN RAMADHAN 1447 H

13 Februari 2026
Administrator
Dibaca 4 Kali
LURAH CONDONGCATUR HADIRI TRADISI NYADRAN DAN POTONG TUMPENG SAMBUT BULAN RAMADHAN 1447 H

Ratusan warga dari wilayah Prayan Wetan dan Prayan Kulon Condongcatur Depok Sleman berkumpul Masjid Prayan Raya untuk mengikuti acara “Prayan Nyadran”, Kamis malam 12 Februari 2026

Mengusung tema “Guyup Rukun, Nglestarekake Budaya”, Nyadran ini menjadi momentum penting bagi masyarakat setempat dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 H tahun 2026 dengan kegiatan acara doa bersama, dan ditutup dengan tradisi kembul bujono atau makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan gotong royong.

Dalam sambutannya Lurah Condongcatur, Dr. Reno Candra Sangaji, S.IP, M.IP memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif warga dalam melestarikan tradisi leluhur ini.

Nyadran adalah salah satu tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat Jawa, terutama di wilayah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. Tradisi ini digelar setiap tahun menjelang bulan suci Ramadhan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal dunia.

“Nyadran” berasal dari bahasa Sanskerta, yakni “sraddha” yang berarti keyakinan. Awalnya, tradisi ini berkaitan dengan kepercayaan animisme, yang kemudian mengalami akulturasi dengan budaya Islam setelah masuknya ajaran Islam ke Pulau Jawa melalui Wali Songo. Transformasi ini menjadikan nyadran sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas berkah yang diberikan” ungkapnya

Lebih lanjut Reno menjelaskan pelestarian budaya dan nilai-nilai sosial seiring berjalannya waktu, nyadran tidak hanya menjadi ajang ritual keagamaan, tetapi juga berperan dalam melestarikan nilai-nilai budaya dan sosial di masyarakat. Tradisi ini menjadi sarana menjaga keharmonisan antarwarga serta mempererat tali persaudaraan melalui kegiatan gotong royong membersihkan makam dan ajang kebersamaan warga dengan makan bersama dan Nyadran sebagai warisan budaya yang telah berlangsung turun-temurun, nyadran menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal dapat bertahan di tengah masyarakat termasuk di beberapa tempat di wilayah Kalurahan Condongcatur

Sementara itu, Dukuh Soropadan, Shalahudin Kamal, S.Pd mewakili elemen masyarakat menegaskan bahwa acara Nyadran ini memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar seremonial belaka

“Kegiatan ini bukan hanya ritual tahunan, melainkan wujud nyata dari kerukunan dan keguyuban warga Prayan yang harus selalu kita jaga erat,” ujarnya

Sebagai simbol rasa syukur dan permohonan keberkahan, puncak acara ditandai dengan prosesi pemotongan tumpeng oleh Lurah Condongcatur diserahkan kepada perwakilan tokoh masyarakat sebagai tanda dimulainya persiapan batin warga Prayan dalam menyuki bulan puasa. Pembacaan doa dan tahlil bersama yang dipimpin Rois dengan melantunan doa untuk arwah para leluhur serta memohon keselamatan dan keberkahan bagi seluruh lingkungan Prayan.

Rangkaian kegiatan “Prayan Nyadran ” ditutup dengan kenduri sederhana. Seluruh warga, tanpa memandang status sosial, duduk melingkar menikmati hidangan bersama. Hadirnya para pemangku wilayah secara lengkap turut memperkuat sinergi antarwarga, terlihat hadir dalam barisan tokoh masyarakat antara lain Dukuh Kaliwaru, para Ketua RT dan RW se-wilayah Prayan, serta Rios Soropadan dari wilayah Prayan Wetan dan Prayan Kulon.

Tradisi makan bersama ini semakin mempertegas suasana kekeluargaan yang kental, memastikan bahwa tali silaturahmi antarwarga Prayan tetap solid menjelang bulan Ramadhan